Minggu, 29 Juni 2014

And I Gotta Everlasting

“We are love forever. I’m yours and You’re mine.”
Minggu, 01 November 2011, disini kita bertemu lagi menyatu dalam rasa.
Ditengah keramaian kota terasa hening beberapa detik disaat kita saling menatap. Haris masih sama seperti dulu, gumam Nanda dalam hati.

Kesan romantis pertama kali Nanda bertemu dengannya masih terasa hingga saat ini. Di setiap denyut waktu Haris, Nanda ingin menjadi urutan pertama yang merindukannya. Tepat di Alun-Alun kota Malang yang kebanyakan kata orang kota cinta namun, kita tak saling bicara. Awal perjumpaan yang tidak biasa tidak hanya dirasakan Nanda tetapi Haris juga merasakan hal yang sama. Haris seperti salah tingkah melihat permaisuri yang dulu pernah tinggal di hati nya saat masih duduk di bangku SMA. Ia tak ingin berlalu lama meratapi masa lalu dengan Nanda karena, kini ia berusaha untuk memperjuangkan masa depan. Termasuk mengunci pintu hati rapat-rapat untuk mendapat ridho Allah yaitu menjalani cinta yang halal dan berujung dengan sebuah pernikahan.
 

Kini Haris dan Nanda telah memasuki dunia perkuliahan. Mereka satu kampus dan satu jurusan. Keseharian Haris sebagai seorang mahasiswa dengan intelektualitas, akhlak dan iman yang kuat. Ia sesosok pemuda yang didambakan oleh wanita di kampus mereka karena, tak heran Haris juga aktif dalam lembaga dakwah kampus. Tentu saja wanita sholehah berlomba-lomba untuk menjadi istrinya. Dedaunan bunga kuning berjatuhan membanjiri halaman rumput hijau. Alangkah nikmat hidup ini terasa sejuk laksana embun menyejukkan hati setiap insan untuk mengharap Ridho-NYA.

Nanda berjalan dengan mengenakan pakaian hijab syar’i dan mambawa beberapa laporan tugas kuliah yang segera ia ingin selesaikan. Dalam urusan akademik Ia adalah mahasiswi yang anggun dan menghargai waktu. Diantara sahabatnya ia yang sering mengingatkan untuk melaksanakan sholat tepat waktu. Mereka salut dengan sahabat seperti Nanda. Dari jauh Haris menyapa Nanda dengan ucapan salam lalu, Nanda juga menjawab salam Haris. Dua insan yang memiliki rasa kagum satu sama lain namun, hanya bisa mereka ungkapkan melalui sujud mereka masing-masing. Sore ini mereka berkumpul di Lembaga Dakwah Islam untuk mengikuti kajian dakwah rutin. 
 
Tema dakwah kali ini ialah “Jalan Cinta Para Pejuang”. Di dalam dakwah tersebut tersirat makna yang mendalam. Nanda menitikkan buih airmata disaat Ustad Fillah mengatakan bahwasannya Kita tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang telah diatur oleh Allah termasuk urusan jodoh dan rezeki. Untuk kaum muslim tidak perlu menunda-nunda menikah disaat lahir maupun bathin telah terpenuhi. Sedangkan untuk kaum muslimah tidak perlu mengkhawatirkan jodoh namun, persiapkan diri kalian untuk menjadi wanita sholihah maka, akan kau dapati lelaki sholeh. Karena, dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah. Sebuah dakwah yang berhasil membuat jantung Haris berdebar dengan nada tak biasa. Kali ini dia ingin berusaha untuk lebih menguatkan tekadnya. Tepat pukul 17.30 WIB Ustad Salim mengakhiri dakwahnya dan bergegas untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Sholat maghrib telah selesai. Nanda segera menuju asrama putri.

Haris bersama dengan Iqbal menuju pondok pesantren mereka. Disana mereka belajar banyak tentang agama. Sebelum Haris tertidur ia menuliskan sebuah puisi di tengah heningnya suasana malam. Di malam yang berbeda dari malam biasanya. Haris sulit untuk melupakan kejadian yang di hari ini karena, dia tidak sengaja pergi bersamaan dengan Nanda di masjid untuk mengikuti komunitas dakwah kampus. Sebuah getaran yang bergetar lebih dari biasanya. Haris menundukkan pandangannya. Kecantikan dari pancaran wajah Nanda sesekali terlihat oleh Haris meskipun hanya beberapa detik disaat Nanda menjawab salam yang Haris berikan. Dalam hati Nanda ia juga merasa malu saat menatap wajah Haris. Dua insane yang saling mengagumi satu sama lainnya. Haris yakin pada satu tekad yakni mendamba cinta yang halal dengan Nanda. Baginya Nanda adalah calon bidadari surga yang akan mendampingi Haris di sisa hidupnya. Terasa lengkap jika ia sudah menikahi Nanda, seorang wanita sholihah yang mampu meluluhkan hati dari lubuk yang terdalam.

Di malam ini begitu pekat namun, ia melihat kerlip satu bintang diantara ribuan bintang yang berpijar. Laksana seperti Nanda yang mampu memberikan sinar terindah dalam sanubarinya. Tak diduga dan disangka Haris teringat pada perkataan Iqbal beberapa hari lalu. Ia sempat terkejut saat mengetahui ternyata sahabatnya Iqbal juga menaruh hati pada Nanda. Seketika itu Haris menenangkan batinnya meskipun Ia terbakar api cemburu oleh sahabat karibnya. Kehidupan yang penuh liku Haris hadapi dengan hati yang ikhlas serta lapang. Ia mencoba menorehkan tinta hitamnya diatas lembaran putih.

"Naungan Rindu"
Cinta datang berbisik melalui celah kalbuku
Sanubari tak mampu menerka
Seuntai kata yang terindah kucipta untukmu bidadariku
Keanggunan terpikat memancarkan aura pesonamu
Kenali aku lebih dekat
Hidup ini berwarna laksana pelangi oleh goresan hujan
Kau hadir dengan binar mata yang berbeda
Kini aku tak lagi berteman dalam sepi
Aku ingin engkau mencintaiku
Dalam sebuah rasa cinta yang halal
Aku ingin engkau menjadi makmumku
Karena itu harapanku
Harapan untuk belahan jiwa sekarang dan selamanya..
Dalam hati Haris bergumam puisiku ini teruntuk Aisiah Setya Nanda. Senyum merekah di bibir Haris. Jiwanya terasa lega dapat menuliskan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya.

Waktu berputar dengan cepatnya. Konflik kecil terjadi antara Nanda, Haris dan Iqbal. Sungguh diluar nalar ini terjadi pada mereka. Haris yang sengaja menyimpan puisi itu rapat-rapat karena, tak ingin diketahui oleh seorangpun. Namun, Iqbal memberitahukan hal itu pada Nanda. Nanda sempat luluh dan terkejut saat membaca puisi itu. Di satu sisi ia tak mengerti untuk siapa dia berikan puisi itu namun, disatu sisi Ia juga terharu karena, makna dari puisi itu teramat dalam. Nanda tak bias berkata apa-apa. Tubuhnya sempat kaku sesaat. Harispun menghampiri Nanda dan Iqbal. Haris menyapa mereka berdua dengan ucapan salam. Mereka menjawab bersamaan. Haris melihat buliran air mata yang membasahi pipi Nanda.
Haris : MasyaAllah Nanda kenapa menangis?
Nanda : Hanya tersenyum manis tanpa berkata sepatah katapun.
Haris : Bicaralah kepadaku sebenarnya mengapa kamu menangis Nan?
Nanda :Aku menangis karena, aku membaca puisi ini.
Iqbal :Maafkan aku Ris (Sambil pergi meninggalkan Nanda dan Haris)
Haris :Puisi seperti apa?
Nanda :Puisi naungan rindu. Apa benar ini kamu yang menulisnya?
Haris :Benar puisi itu saya yang menulisnya.
Nanda :Untuk siapa kamu tulis puisi itu, Ris?
Haris :Maafkan aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Nan.
Nanda :mencoba tersenyum meskipun ia cemburu karena, mengira Haris menaruh
hati pada wanita lain. Namun, ia berusaha berprasangka baik sama Allah kalau jodoh pasti bertemu.
Haris :Nanda bukankah engkau menginginkan cinta yang halal. Lantas mengapa Nanda cemburu pada Haris sekarang?
Nanda :Aku hanya wanita biasa Ris. InsyaAllah aku bersabar untuk cinta yang halal.
Haris : Alhamdulillah Nanda telah mengerti. Kali ini Nanda bersikap sangat dewasa. Aku salut sama kamu Nan.
Nanda : Iya Haris. (Sambil Tersenyum ).
Haris :Nanda sebentar lagi waktu sholat dhuhur. Ayo kita sholat berjamaah.
Nanda :Iya Ris.
Seiring adzan dhuhur berkumandang. Haris berjalan didepan dan Nanda di belakang Haris. Kesalahpahaman mampu teredam disaat Haris mencoba menenangkan Nanda dari api cemburu. Haris mengerti apa yang harus dia lakukan. Jujur saja ia tak mungkin bisa membiarkan wanita yang didambanya bersedih. Dalam hati Haris bergumam Nanda jangan menangis. Kesedihanmu biar aku saja yang menangunggnya.

Sabtu,7 November 2011
Hari yang dinanti oleh semua mahasiswa maupun mahasiswi ialah wisuda. Haris dan Nanda telah berhasil menyelesaikan studi kuliah S1. Disanalah tempat untuk mereka menimba ilmu dan belajar tentang kehidupan. Di kampus perjuangan mereka berjuang setulus hati untuk meraih masa depan mereka. Haris dan Nanda lulus dengan nilai cumlaude. Haris diterima di salah satu perusahaan ternama sebelum ia diwisuda. Nanda telah berhasil menjadi penulis best seller dan menjadi pembicara novelis termuda di berbagai kota. Rasa syukur terus mereka panjatkan untuk Allah SWT. Orang tua mereka juga dating saat acara wisuda berlangsung. Orang tua Haris ternyata sudah mengenal orang tua Nanda dengan baik. Mereka saling berbicara satu sama lain tentang segala hal antara Haris dan Nanda. Sungguh sebuah nikmat yang tiada tara. Bahkan tak mampu terjangkau oleh akal sehat.

Muhammad Haris Setiawan . Terdengar suara Rektor memanggil namanya dengan lantang. Ia bergegas untuk naik ke atas panggung wisuda. Ucapan selamat dan rasa bangga menyelimutinya. Nanda tidak berani melihat Haris seketika itu. Doa yang ia panjatkan saat nama Haris terdengar di telinganya. Nanda berusaha menenangkannya. Kini, giliran Nanda yang dipanggil ke atas panggung untuk menerima ijazah .

Usai acara wisuda. Nanda segera menghampiri Umi dan Abi nya. Begitu juga Haris ia memeluk kedua orang tuanya dengan tetesan air mata bahagia. Orang tua Haris membicarakan hal penting yang akan segera Haris lakukan minggu depan.
Sebuah kabar yang Haris terima dengan denyut nadi berdetak kencang luar biasa saat ia mendengar orang tuanya ingin Haris menikah dengan Nanda. Seperti mimpi rasanya. Haris bersujud dengan spontan. Mengucap terima kasih kepada Allah SWT telah mengabulkan doa yang selama ini ia pendam. Waktu yang indah telah datang.

Seminggu kemudian,
14 November 2013
Kala harapan yang tergenggam hati menjadi kenyataan, diri yang selalu bersenandung rindu diiriningi nyanyian bahagia oleh seseorang bidadari yang menggetarkan sukmanya dalam embun dedaunan cintaku. Tergetar Haris dengan semua scenario yang Allah SWT berikan. Ia menikah dengan wanita yang telah lama didambanya. Dambaan itu kini telah hadir di depan mata. Hari ini pernikahan suci antara Haris dan Nanda telah dilaksanakan. Mereka duduk di pelaminan berdua dengan rasa penuh bahagia. Nanda tersenyum bahagia. Selama ini Harislah yang mampu membuat Nanda jatuh cinta. Sekarang Haris yang mampu menjadi imam untuk kehidupan Nanda. Mereka saling berjanji untuk membina keluarga yang mereka idamkan selama ini.

Di malam pernikahan mereka. Haris meminta Nanda membacakan ayat suci Al-Qu’an tepat di hadapannya.
Haris : Wahai, istriku bolehkah aku memintamu untuk membacakan QS. An-Nisa’ ayat 14. (Sambil tersenyum).
Nanda :Iya suamiku. Aku akan membacakan ayat suci sesuai dengan permintaanmu.
Haris : (Mendengarkan dengan seksama).
Usai Nanda membacakan ayat suci Al-Qur’an. Haris bertanya pada Nanda.
Haris : Istriku,, apakah kamu mencintaiku?
Nanda : Adakah kau lihat keraguan dalam benakku?
Haris : Aku sangat mencintaimu lahir bathin, Nanda istriku (Sambil mencium Kening Nanda).
Kanvas kehidupan berhasil tergores indah untuk Haris dan Nanda. Live to Love is wonderful. Make a great love forever. The perfect live is a big pride for Allah SWT.

0 komentar:

Posting Komentar